oleh: Adi Nurwicaksono, S.Pd (Guru Sejarah Indonesia SMK Kesehatan Rahani Husada Klaten

Pendidikan tidak hanya diartikan sebagai transfer pengetahuan melainkan transfer nilai, terutama nilai – nilai yang terkandung dalam 18 nilai karakter yang ditargetkan dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter saat ini sangat diperlukan untuk mengatasi masalah generasi penerus bangsa yang semakin sulit dikendalikan. Pembelajaran sejarah sebagai pendukung pendidikan karakter memiliki peran yang sangat sentral karena lingkup materi yang diajarkan. Lingkup materi tersebut antara lain mengandung nilai – nilai heroik, teladan,perintis, patriotism, nasionalisme dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik
Di dalam proses pembelajaran sejarah sering kali Guru Sejarah justru hanya menggunakan satu metode pembelajaran, seperti ceramah. Metode pembelajaran ceramah sebenarnya sangat baik digunakan dalam pembelajaran sejarah, terutama untuk menanamkan nilai–nilai kebajikan yang terdapat dalam pelbagai peristiwa sejarah. Akan tetapi, jika metode ceramah dilakukan terus menerus justru akan membuat pembelajaran berdampak buruk. Beberapa peserta didik juga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing seperti mengobrol dengan teman, bermain dengan gawai yang dimilikinya, mengerjakan tugas pelajaran lain, atau tertidur. Oleh karena itu guru perlu menggunakan model pembelajaran yang inovatif agar preses belajar mengajar menarik serta menyenangkan, juga pelajaran yang disampaikan bermakna bagi peserta didik.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan peserta didik bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang menunjang adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Make a match dikembangkan oleh Lorna Curran (dalam Huda, 2011:135) dengan mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana menyenangkan dan bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran di tingkatan kelas. Pembelajaran model make a match melibatkan peserta didik sepenuhnya, karena guru disini berlaku sebagai pembimbing jalannya diskusi dalam mencocokkan jawaban peserta didik. Keterlibatan peserta didik terlihat jelas dari bagaimana usaha peserta didik dalam mencari jawaban yang sesuai dengan pertanyaan. Penggunaan model pembelajaran kooperatif teknik make a match menjadikan peserta didik dapat berperan aktif, melatih berkomunikasi, melatih bekerjasama antar peserta didik lain, dan membuat peserta didik antusias terhadap persoalan yang ada sehingga peserta didik mau mencoba memecahkan persoalannya.
Selaras dengan hal tersebut, (25/1) Adi Nurwicaksono melalui Program Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2023 mengimplementasikan model pembelajaran make a match dalam mengatasi permasalahan di kelas. Sebelumnya, Adi melakukan observasi secara kualitatif terhadap aktivitas pembelajaran peserta didik di kelasnya. Hasil observasi tersebut dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan, antara lain kurangnya keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan rendahnya minat baca peserta didik. Setelah mengkaji berbagai jurnal, literature dan melakukan wawancara dengan beberapa rekan sejawat maka inovasi dengan penggunaan Pembelajaran kooperatif model make a match perlu diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan yang timbul
Sebelum mengimplementasikan model pembelajaran make a match, beberapa hal yang perlu dipersiapkan, antara lain modul ajar, LKPD, bahan ajar yang telah terintegrasi dengan internet dan kartu make a match.
Implementasi model pembelajaran ini dilakukan pada Kamis (25/1/2024) di kelas X pada materi Kerajaan Hindu Budha. Implementasi dilaksanakan sesuai sintaks model pembelajaran make a match. Adapun sintaksnya
- Peserta didik diarahkan untuk mencari sumber belajar untuk menggali informasi tentang masuknya Hindu Budha di Indonesia
- Peserta didik diberikan waktu untuk mengumpulkan informasi
- Guru membagikan kartu make a match yang telah disiapkan
- Setiap peserta didik mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
- Peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban)
- Peserta didik yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
- Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya
- Guru menyimpulkan dan menyempurnakan kesimpulan dari peserta didik untuk memberikan penguatan materi
Dalam proses pembelajaran dapat diamati bahwa masing masing peserta didik membaca kartu yang diberikan. Setelah membaca, tentu saja ada upaya dari peserta didik untuk mencari informasi mengenai kartunya masing masing. Upaya mencari informasi inilah yang ternyata dapat meningkatkan minat baca peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan. Dengan masing – masing peserta didik mengupayakan untuk mencocokkan jawaban, tentu saja juga meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Sehingga dengan kata lain, permasalahan dalam kelas tersebut teratasi. Sehingga, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat memenuhi ketuntasan dan hasil belajar siswa, sehingga dapat direkomendasikan sebagai alternative model pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran di SMK.