
………….meskipun ku tak siap untuk merindu, ku tak siap tanpa dirimu………..
Penggalan lirik lagu itu masih sangat lekat di ingatan bagi yang hadir pada malam itu, malam pelepasan OJT II. Lagu penutup yang dinyanyikan oleh seluruh peserta On The Job Training II SMK Kesehatan Rahani Husada. Mereka menyanyikan lagu itu ditemani dengan lilin-lilin di tangan mereka. Satu bulan penuh makna. Kenapa?
Praktek Kerja Lapangan atau PKL adalah hal yang lazim bagi siswa SMK. Di SMK Rahani Husada, istilah PKL lebih sering disebut OJT (On The Job Training). OJT II SMK Kesehatan Rahani Husada diikuti oleh 76 siswa, yang terdiri dari siswa SMK Rahani Husada Klaten, Ngawi dan Madiun. Istimewa memang, OJT II selalu dilaksanakan secara bersamaan oleh seluruh SMK dalam naungan yayasan Rahani. OJT II tahun ini dilaksanakan di Wisma Lansia Harapan Asri dan di daerahnya masing-masing.
Satu bulan penuh makna, kenapa? OJT siswa Rahani berbeda dengan PKL pada umumnya. OJT siswa Rahani dilakukan dengan sistem asrama seperti SPK di masa lampau. Pada masa pendidikan asrama inilah, pembentukan karakter siswa benar-benar menjadi perhatian utama agar setelah lulus nanti mereka benar-benar siap sebagai tenaga kesehatan.
Pendidikan asrama selaras dengan pendidikan penguatan karakter yang dicanangkan pemerintah. Lima nilai karakter utama yang benar-benar tercermin dalam kehidupan asrama. Lima nilai karakter utama tersebut antara lain religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong-royong. Religius, siswa secara teratur melakukan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing –masing. Nasionalis, siswa terbiasa menaati aturan dalam asrama maupun ditempat kerja. Integritas, siswa aktif dalam pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Wisma Lansia Harapan Asri. Mandiri, siswa dilatih berani dan kreatif dalam menyelesaikan tugasnya selama OJT. Gotong-royong, tentu saja ini setiap hari mereka dilatih gotong royong dengan tim medis lainnya dalam melakukan pelayanan kesehatan.
Satu bulan yang benar benar penuh makna bagi siswa-siswa yang menikmati prosesnya. Yang awalnya jarang menjadi muadzin, menjadi terbiasa jadi muadzin. Yang mulanya suka mengkritik, bisa menjadi pemimpin. Yang awalnya susah bangun pagi, menjadi rajin bangun pagi. Yang mulanya mengerjakan pekerjaan sendiri, jadi terbiasa bergotong royong untuk menyelesaikan pekerjaan. Tentu saja, diharapkan nilai-nilai karakter yang baik ini tetap terjaga dan semakin baik dari hari ke hari, agar nantinya bisa lulus dengan predikat terampil dan berkarakter.